Waspada! BPOM Ungkap 8 Obat Paling Sering Dipalsukan Yang Mengancam

Bagikan

Waspada! BPOM mengungkap delapan obat paling sering dipalsukan di Indonesia. Konsumsi obat palsu tidak hanya tidak efektif.

8 Obat Paling Sering Dipalsukan Yang Mengancam

Laporan ini menyoroti risiko kesehatan dari peredaran obat ilegal, pentingnya membeli obat di apotek resmi, serta langkah pemeriksaan kemasan dan kode izin edar. Ketahui jenis obat yang rentan dipalsukan dan cara melindungi diri agar tetap aman. Jangan sampai tertipu obat palsu.

Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang cuman ada di Pusat Bahaya.

BPOM Ungkap 8 Obat Paling Sering Dipalsukan

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menyoroti maraknya peredaran obat palsu di Indonesia. Dalam laporan terbaru, BPOM mengungkap delapan jenis obat yang paling sering dipalsukan, mulai dari obat resep hingga obat bebas yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Kepala BPOM, dalam konferensi pers, menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan untuk selalu memeriksa keaslian obat sebelum dikonsumsi. “Obat palsu tidak hanya tidak efektif, tetapi bisa menyebabkan komplikasi serius hingga kematian,” ujarnya. Kasus ini menyoroti celah distribusi ilegal obat yang memanfaatkan ketidaktahuan konsumen.

BPOM juga memperingatkan pelaku distribusi ilegal bahwa pihaknya akan terus menindak tegas. Operasi pengawasan dan pengujian obat secara acak di apotek, toko obat, hingga pasar daring dilakukan secara rutin. Langkah ini bertujuan menekan peredaran obat palsu dan melindungi masyarakat dari risiko kesehatan.

Jenis Obat yang Paling Sering Dipalsukan

BPOM mencatat delapan jenis obat yang paling sering dipalsukan, di antaranya obat untuk tekanan darah, diabetes, kolesterol, obat nyeri, antibiotik, obat penurun berat badan, suplemen kesehatan, dan obat kuat. Beberapa di antaranya memiliki permintaan tinggi, sehingga menjadi target utama para pemalsu.

Obat palsu ini sering kali memiliki kemasan yang hampir sama dengan obat asli. Bedanya hanya pada kualitas bahan aktif, dosis yang tidak tepat, atau bahkan tidak mengandung bahan aktif sama sekali. Kondisi ini membuat pasien tidak mendapatkan manfaat terapi yang diharapkan dan berisiko mengalami efek samping berbahaya.

BPOM menekankan bahwa masyarakat harus membeli obat hanya dari apotek resmi dan memeriksa label izin edar. Dengan demikian, risiko konsumsi obat palsu dapat diminimalkan. Pengawasan ketat juga diterapkan pada e-commerce dan toko daring untuk mengurangi peluang peredaran obat ilegal.

Baca Juga: Tebing 15 Meter Longsor, Rumah Warga di Puncak Nyaris Amblas

Dampak Kesehatan Obat Palsu

Dampak Kesehatan Obat Palsu

Penggunaan obat palsu bisa menimbulkan berbagai dampak serius. Mulai dari alergi, kerusakan organ, resistensi obat, hingga kematian. Misalnya, obat palsu untuk tekanan darah atau diabetes dapat menyebabkan gagal organ karena dosis yang tidak tepat, sementara antibiotik palsu dapat memicu resistensi bakteri yang membahayakan pasien lain.

Selain itu, efek psikologis juga menjadi masalah. Pasien yang mengonsumsi obat palsu merasa khawatir, kehilangan kepercayaan pada sistem kesehatan, dan enggan melanjutkan pengobatan. Kondisi ini berdampak pada kualitas hidup pasien dan memperberat beban rumah sakit serta tenaga medis.

BPOM menekankan bahwa edukasi publik menjadi kunci. Masyarakat harus lebih berhati-hati, mengenali ciri obat asli, dan melaporkan dugaan obat palsu melalui kanal resmi BPOM. Langkah preventif ini dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi risiko komplikasi kesehatan.

Upaya BPOM Mengatasi Peredaran Obat Palsu

BPOM telah mengintensifkan pengawasan melalui uji laboratorium, inspeksi mendadak, hingga penindakan hukum terhadap pelaku distribusi obat palsu. Kolaborasi dengan kepolisian, kementerian kesehatan, dan platform e-commerce dilakukan untuk menutup celah distribusi ilegal.

Selain itu, kampanye edukasi masyarakat rutin digelar. BPOM mengajarkan cara mengenali obat palsu, mulai dari cek kode registrasi, periksa kemasan, hingga memastikan obat dibeli di apotek resmi. Hal ini penting agar konsumen lebih waspada dan tidak mudah tertipu.

BPOM juga mendorong inovasi sistem pelacakan obat berbasis QR code dan barcode. Teknologi ini memungkinkan konsumen dan tenaga medis memverifikasi keaslian obat secara cepat dan akurat. Dengan langkah ini, diharapkan peredaran obat palsu dapat ditekan dan keamanan kesehatan masyarakat lebih terjamin.

Luangkan waktu Anda untuk membaca informasi terbaru dan terviral lainnya yang akan menamba wawasan Anda .


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Utama dari health.kompas.com
  2. Gambar Kedua dari health.kompas.com

Similar Posts