Tragedi Kaki Burangrang, Longsor Dahsyat Ratakan Kampung Warga

Bagikan

Pada dini hari yang sunyi, Sabtu (24/1/2026), hujan gerimis yang perlahan turun berubah menjadi awal petaka di kaki Gunung Burangrang.

Tragedi Kaki Burangrang, Longsor Dahsyat Ratakan Kampung Warga

Tepat pukul 03.00 WIB, bumi tiba-tiba bergetar, diiringi suara gemuruh yang memekakkan. Lumpur dan material longsor menerjang permukiman warga yang telah kokoh berdiri puluhan tahun, mengubahnya menjadi puing-puing dalam sekejap mata.

Dapatkan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya yang memperluas wawasan Anda hanya di Pusat Bahaya.

Detik-Detik Tragis Yang Mengubah Segalanya

​Bencana longsor dahsyat itu menyapu puluhan rumah di tiga kampung, yakni Kampung Pasir Kuning, Kampung Pasir Kuda, dan Kampung Babakan, yang semuanya berada di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).​ Dalam sekejap, kehidupan yang tenang berubah menjadi mimpi buruk, meninggalkan kehancuran dan kepedihan mendalam.

Korban berjatuhan, sementara warga yang selamat berdesakan di pengungsian dengan perasaan campur aduk antara syok dan ketakutan. Tim SAR gabungan segera dikerahkan, berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang diduga tertimbun. Pemerintah daerah pun segera menetapkan status tanggap darurat, menyadari skala bencana yang luar biasa.

Pada hari kesembilan pencarian, hampir semua korban telah berhasil dievakuasi dan diidentifikasi. Tragedi ini bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka mendalam yang takkan mudah terhapus di hati para penyintas dan keluarga korban.

Jejak Luka Dan Pencarian Yang Penuh Harapan

Sampai Minggu (1/2/2026), tim SAR Gabungan telah berhasil mengevakuasi 74 “body pack” dari lokasi kejadian. “Hari ini, tim menemukan empat body pack,” ujar Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, menunjukkan dedikasi tanpa henti para petugas di lapangan.

Berdasarkan laporan awal, total korban yang tertimbun longsor diperkirakan mencapai 80 orang. Dengan penemuan 74 korban, masih ada enam korban yang hingga kini terus dalam pencarian. “Mudah-mudahan sisa korban bisa segera ditemukan,” imbuh Ade Dian, menyuarakan harapan kolektif.

Seluruh korban yang berhasil dievakuasi langsung diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat untuk proses identifikasi. Hingga 1 Februari pukul 16.00 WIB, sebanyak 57 korban telah teridentifikasi, sementara sisanya masih dalam proses verifikasi.

Baca Juga: 57 Jenazah Korban Longsor Bandung Barat Teridentifikasi

Dampak Dahsyat Dan Upaya Relokasi

Dampak Dahsyat Dan Upaya Relokasi

Bencana longsor ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menyebabkan kerusakan masif pada infrastruktur permukiman. Tercatat 48 rumah warga mengalami kerusakan parah, dan yang lebih mengkhawatirkan, 80 rumah lainnya masuk dalam rencana relokasi.

Incident Commander (IC) penanganan longsor Cisarua, Ade Zakir, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan zonasi wilayah terdampak. “Pendataan awal mencatat sekitar 80 rumah yang harus direlokasi. Rinciannya, 46 rumah rusak dan 34 rumah berada di zona merah,” terangnya.

Rumah-rumah di zona aman, meskipun tidak rusak, sebagian besar ditinggalkan pemiliknya yang memilih mengungsi sementara. “Kami masih memilah rumah per rumah. Bagi warga di luar zona terdampak dan merah, kami imbau untuk kembali,” kata Ade Zakir, berusaha memulihkan tatanan sosial yang terganggu.

Ancaman Cuaca Ekstrem Dan Fenomena ‘Wisata Bencana’

Enam korban longsor masih belum ditemukan hingga hari kesembilan operasi. Tim SAR Gabungan terus berupaya keras, namun ancaman cuaca ekstrem dan potensi longsor susulan menjadi tantangan besar. “Operasi pencarian harus mengedepankan unsur keselamatan,” tegas Ade Dian.

Pemerintah telah melakukan lebih dari 20 kali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah terdampak. Namun, BMKG memprediksi bahwa wilayah longsor masih berpotensi diguyur hujan, mengindikasikan bahwa pencarian akan tetap sulit.

Di tengah situasi genting ini, ironisnya lokasi longsor sempat dipadati warga yang datang hanya untuk melihat langsung, sebuah fenomena yang dikenal sebagai ‘wisata bencana’. Petugas berulang kali mengingatkan bahaya dan mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati area terdampak demi keselamatan bersama.

Jangan lewatkan berita terkini beserta berbagai informasi menarik yang memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar pertama dari detik.com
  • Gambar Utama dari lembangnews.com

Similar Posts