Hari Raya Di Jakarta Timur Berubah Jadi Bencana Banjir, Sistem Drainase Dikritik
Banjir melanda Jakarta Timur saat Hari Raya, memicu kritik tajam terhadap sistem drainase kota yang dinilai belum memadai.
Perayaan Hari Raya di Jakarta Timur berubah menjadi kekacauan akibat banjir yang melanda sejumlah kawasan. Warga menghadapi genangan air tinggi, sementara sistem drainase kota mendapat sorotan tajam dari pemerhati lingkungan. Kejadian Bahaya ini memicu desakan untuk perbaikan menyeluruh agar bencana serupa tidak terulang.
Banjir Di Jakarta Timur Saat Hari Raya
Banjir melanda sejumlah wilayah di Jakarta Timur saat libur Hari Raya, termasuk kawasan Cibubur dan Pondok Rangon, yang jarang terdampak genangan air secara parah. Genangan air bahkan menyebabkan kemacetan di tol Jagorawi KM 12 ketika arus kendaraan libur ramai tertahan oleh air. Fenomena ini menjadi sorotan karena terjadi saat curah hujan tidak berlangsung lama namun dampaknya signifikan.
Wakil Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, Azas Tigor Nainggolan, menilai banjir ini menunjukkan masalah serius pada infrastruktur drainase Jakarta Timur. Ia mengatakan drainase tidak dirawat dan tidak diperbaiki secara memadai, sehingga banjir mudah terjadi walau hujan tidak ekstrem. Genangan juga bertahan hingga dua hari setelah hujan reda.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat lebih dari 46 rukun tetangga di Jakarta Timur terdampak banjir sejak awal periode hari raya, memperlihatkan luasnya dampak genangan. Warga harus menyesuaikan aktivitas harian karena air masih menggenang di beberapa titik.
Kejadian ini memicu kekhawatiran publik karena banjir menjangkau wilayah yang biasanya tidak rawan terendam, menunjukkan kemungkinan permasalahan drainase lebih luas di ibukota. Warga dan pengamat mempertanyakan kesiapan pemerintah menghadapi pola cuaca yang lebih tidak menentu.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kritik Terhadap Sistem Drainase
Menurut Tigor Nainggolan, kerusakan tanggul di aliran Sungai Cipinang juga berkontribusi terhadap banjir di Jakarta Timur. Ketika air sungai meluap, saluran drainase gagal menyalurkan air secara efektif ke sungai utama atau sistem pembuangan lainnya.
Tigor menyatakan bahwa sistem drainase yang bermasalah bukan hanya soal lama tak diperbaiki, tetapi juga kurangnya langkah preventif seperti pemeliharaan rutin, pengerukan sungai, dan perbaikan saluran primer serta sekunder. Hal ini memperburuk respons terhadap curah hujan.
Ia juga menyebut lemahnya sistem peringatan dini kepada warga. Informasi prakiraan hujan dari BMKG memang tersedia, tetapi ia menilai pemerintah daerah harus lebih cepat menyampaikan mitigasi kepada publik sehingga masyarakat dapat melakukan antisipasi sebelumnya.
Permasalahan drainase ini dinilai semakin meluas karena sebelumnya Jakarta Timur jarang mengalami banjir besar seperti yang terjadi saat periode hari raya ini. Kondisi ini mendorong desakan untuk perbaikan sistem secara menyeluruh.
Baca Juga: Mengejutkan! Bencana Bertubi-Tubi Hantam Jabar Sampai Maluku, BNPB Buka Fakta Terbaru
Dampak Banjir Terhadap Warga Dan Mobilitas
Banjir yang merendam sejumlah kawasan membuat aktivitas warga terganggu, terutama di area permukiman dan jalur utama. Banyak warga melaporkan kesulitan saat melakukan perjalanan karena genangan air masih ada hingga siang hari.
Di beberapa titik seperti Pondok Bambu, banjir mencapai ketinggian signifikan, sehingga mobilitas warga dan layanan publik menjadi terhambat. Beberapa kendaraan memilih tetap berada di rumah atau mengambil rute menggunakan ojek air improvisasi.
Wilayah permukiman yang terdampak biasanya berada di kawasan rendah dan dekat sungai atau saluran besar yang mudah meluap saat hujan deras turun. Meski banjir surut di beberapa titik, genangan lama masih menghambat kegiatan termasuk sekolah dan pasar lokal.
Intensitas hujan dan polanya yang tidak menentu semakin memperparah kondisi ketika saluran drainase tak mampu menampung debit air, sehingga banjir jadi masalah tahunan di sebagian besar kawasan Jakarta termasuk timur.
Desakan Perbaikan Total Drainase
Tigor menegaskan bahwa banjir ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki sistem drainase secara total, bukan hanya perbaikan parsial. Perbaikan menyeluruh diharapkan bisa mencegah banjir serupa di masa depan.
Ia juga mendorong Gubernur DKI Jakarta agar wali kota bertindak aktif memantau kondisi drainase di wilayah masing‑masing serta memimpin respons cepat saat terjadi banjir. Peran wali kota dianggap penting karena mereka mengetahui kondisi lapangan secara detail.
Pemerintah telah mengeruk saluran air, tetapi publik menilai langkah itu belum cukup menghadapi curah hujan tinggi belakangan ini. Desakan mencakup sistem peringatan dini efektif agar masyarakat siap menghadapi risiko cuaca buruk yang diprediksi.
Perlu Pendekatan Jangka Panjang
Kondisi banjir di Jakarta, termasuk di kawasan timur, merupakan bagian dari fenomena yang kerap terjadi di ibu kota karena geografi wilayah datar dan pola curah hujan tropis. Sistem drainase memegang peran krusial dalam mengatur aliran air hujan dan kiriman dari hulu.
Beberapa pengamat juga menyoroti bahwa tata ruang dan pengendalian lahan turut mempengaruhi banjir. Permukiman padat dan berkurangnya area resapan menjadi tantangan tambahan bagi sistem drainase kota yang perlu diperbaiki.
Perbaikan drainase jangka panjang tidak hanya melibatkan perluasan saluran air, tetapi juga teknologi pengelolaan air seperti sumur resapan, pompa pompa air, dan kanal bypass sungai besar untuk menyalurkan air lebih cepat ke laut atau sungai besar. Para desakan tersebut mencerminkan urgensi menggabungkan solusi infrastruktur dan kebijakan lingkungan yang berkelanjutan untuk mengatasi banjir di masa mendatang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.google.com
- Gambar Kedua dari www.google.com