Banjir Kepung Kota Pasuruan! 100 Keluarga Terdampak, Warga Mulai Terdesak
Hujan deras yang mengguyur Kota Pasuruan, Jawa Timur, kembali memicu bencana banjir yang merendam sejumlah wilayah.
Air yang naik secara cepat memasuki kawasan permukiman membuat warga harus bergerak menyelamatkan barang-barang berharga mereka ke tempat yang lebih aman. Sejumlah ruas jalan yang biasanya menjadi jalur utama mobilitas harian pun tidak dapat dilalui kendaraan, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial ikut terhambat dalam waktu singkat. Simak selengkapnya hanya di Pusat Bahaya.
Banjir Mendadak Kepung Kota Pasuruan
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Jawa Timur kembali memicu bencana hidrometeorologi. Kali ini, Kota Pasuruan menjadi salah satu daerah yang terdampak cukup signifikan setelah Sungai Welang meluap dan menggenangi permukiman warga.
Sedikitnya 100 Kepala Keluarga (KK) terdampak langsung akibat banjir yang terjadi pada Selasa (21/4) petang tersebut. Air dengan cepat merendam rumah-rumah warga serta beberapa akses jalan utama di sejumlah titik kota.
Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat terganggu, terutama di wilayah yang menjadi langganan banjir saat curah hujan meningkat. Warga pun terpaksa beradaptasi dengan genangan air yang masuk ke rumah mereka dalam waktu singkat.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Luapan Sungai Welang Jadi Pemicu Utama
Berdasarkan keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Welang setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu dan sekitarnya. Debit air yang meningkat drastis tidak mampu ditampung oleh aliran sungai.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan bahwa sedikitnya 100 rumah sempat terendam akibat kejadian tersebut. Air juga menggenangi beberapa ruas jalan yang berada di kawasan permukiman padat penduduk.
Selain itu, banjir merata di tujuh kelurahan yang tersebar di beberapa kecamatan di Kota Pasuruan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak luapan sungai cukup luas dan memengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Baca Juga:Â Siap Siap! Hujan Ringan Hingga Sedang Diprediksi Guyur Jabodetabek Hari Ini
Wilayah Terdampak Dan Kondisi Di Lapangan
Wilayah yang terdampak meliputi Kelurahan Karangketug di Kecamatan Gadingrejo, serta Kelurahan Petamanan, Kebonsari, dan Kandang Sapi di Kecamatan Panggungrejo. Selain itu, Kelurahan Wirogunan, Puturejo, dan Purworejo di Kecamatan Purworejo juga ikut terdampak banjir.
Genangan air di beberapa titik sempat cukup tinggi hingga memasuki rumah warga. Namun, seiring waktu dan berkurangnya intensitas hujan, kondisi mulai berangsur membaik meski sebagian area masih tergenang.
Pada Rabu (22/4), cuaca di lokasi terpantau kembali hujan ringan. Meski demikian, banjir di sebagian wilayah dilaporkan mulai surut secara bertahap, meskipun warga masih harus waspada terhadap potensi kenaikan air susulan.
Penanganan Cepat Dan Status Siaga Bencana
BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kota Pasuruan segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan darurat. Fokus utama mereka adalah kaji cepat kondisi di lapangan serta memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi.
Distribusi logistik juga mulai dilakukan kepada warga yang terdampak banjir. Bantuan ini mencakup kebutuhan darurat seperti makanan, air bersih, serta perlengkapan dasar untuk mendukung aktivitas sementara waktu.
Sementara itu, Jawa Timur saat ini masih berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi basah. Status ini ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur dan berlaku hingga 1 Mei 2026, sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana lanjutan.
Upaya Mitigasi Dan Kewaspadaan Banjir Susulan
Dengan status siaga yang masih berlaku, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir susulan. Kondisi cuaca yang masih fluktuatif menjadi perhatian utama dalam proses pemantauan di lapangan.
Abdul Muhari menegaskan bahwa penanganan terhadap warga terdampak harus dilakukan secara maksimal. Selain itu, upaya mitigasi juga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan rawan banjir. Pemantauan kondisi sungai dan curah hujan secara berkala menjadi langkah penting agar dampak bencana dapat diminimalkan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari regional.kompas.com